Wawancara Pedagang Sayur Pasar Kandangsapi

Kandangsapi adalah daerah pinggiran kota Solo yang lokasinya tidak terlalu besar, namun karena padatnya penduduk di daerah tersebut maka tidak aneh disana terdapat pasar kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar terutama bagi kebutuhan pangan. Salah satu pedagang yang ikut mengisi kegiatan jual beli di pasar tersebut adalah ibu Ngatinem. Ibu yang akrab disapa Yu Nem ini berusia 52 tahun dan kurang lebih sudah 30 tahunan menjadi seorang pedagang sayur di pasar tradisional. Yu Nem bertempat tinggal tidak jauh dari pasar Kandangsapi, hanya sekitar 5 menit jalan kaki. Yu Nem telah menggelar dagangannya sekitar pukul 4 pagi dan tutup sekitar pukul 5 sore tiap harinya. Di siang hari ia dibantu kedua putrinya yang duduk di bangku 3 SMK dan 3 SMP dan putri sulungnya telah bekerja di sebuah supermarket di kota Solo. Yu Nem memperoleh penghasilan mencapai Rp 30.000,00 per hari namun itu tidak tentu kadang mendapat lebih sedikit dari itu dan masih lagi ia membayar sewa lapak sekitar Rp 100.000,00 per bulan. Meski dirasa pendapatannya kurang memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan anak-anaknya namun ia cukup terbantu dengan BLT yang diterimanya dan juga dari anak sulungnya. Yu Nem adalah seorang single parent, suaminya telah meninggal 3 tahun yang lalu karena penyakit TBC. Ibu Ngatinem merasa senang dengan pekerjaan yang ia geluti saat ini meski terkadang bosan namun ia tidak punya pilihan lain karena ia merasa tidak memiliki keterampilan lain dan latar belakang pendidikan yang hanya sampai lulus sekolah dasar. Meski ia berlatar belakang rendah namun ia ingin anak-anaknya tidak seperti dia, ia ingin anaknya bisa kuliah dan sukses.

Wawancara Tukang Becak

Perempatan Tugu Cembreng Solo adalah lokasi yang cukup strategis bagi para tukang becak mendapatkan penumpang karena banyak penumpang yang turun dari bus khususnya bus antarkota yang akan memasuki kampung yang cukup jauh merasa becak adalah transportasi yang pas untuk mengantar mereka.  Salah satu tukang becak yang ada di daerah Pedaringan adalah bapak Jiman yang tinggal di Gulon RT 03/XXI. Usianya 57 tahun dan berprofesi sebagai tukang becak selama sekitar 30 tahun namun ia mangkal di perempatan Tugu Cembreng selama sekitar 20 tahun. Selain menjadi tukang becak tidak ada pekerjaan lain yang ia jadikan penopang untuk menafkahi istri dan kelima anaknya dengan alasan hanya pekerjaan inilah yang ia bisa lakukan. Per hari rata-rata ia mendapatkan Rp 10.000,00 untuk makan sehari-hari itu pada 5 tahun terakhir ini sangat sulit mendapatkan uang sepuluh ribu seharian. Namun istrinya pun membantu dengan bekerja di kantin perpustakaan UNS sebagai juru masak yang berpenghasilan Rp 15.000,00 per hari sehingga jika sewaktu-waktu Pak Jiman tidak mendapatkan uang ada uang cadangan yang diandalkan untuk makan sehari-hari. Pak Jiman bekerja mulai pukul 6 sampai pukul 9 malam dimulai dengan mangkal di perempatan Tugu Cembreng kemudian berkeliling sampai Rumah Sakit Dr. Moewardi kemudian kembali mangkal di perempatan Tugu Cembreng dan tidak ada hari libur baginya, jika ia merasa lelah ia akan pulang untuk istirahat kemudian bekerja kembali dan dalam keadaan panas maupun hujan ia tetap harus bekerja namun kebanyakan ia menunggu penumpang daripada mencari penumpang. Selain kebutuhan sehari-hari masih banyak biaya yang perlu dikeluarkan oleh Pak Jiman yaitu sewa becak, karena becak yang ia gunakan untuk bekerja bukan miliknya sendiri namun becak sewaan dari seorang bernama Pak Heri yang bertempat tinggal di Mojosongo. Tarif sewa per hari adalah Rp 2.500,00 yang ditarik tiap lima hari sekali. Kemudian ada pajak untuk becak yang ditanggungnya sendiri sebesar Rp. 6.000,00 per tahun jika belum bayar pajak bisa kena razia meski razia becak sangat jarang sekali dan Pak Jiman sendiri belum pernah terkena razia apapun selama sekitar 30 tahun bekerja. Kemudian biaya perawatan becak atau seandainya ban becaknya bocor harus ia tanggung sendiri. Namun terkandang Pak Jiman mendapat bantuan dari mertuanya dan untuk ketiga anaknya yang masih bersekolah mendapat bantuan dari pemerintah berupa program BOS dan juga dari anak pertamanya yang sudah bekerja sedangkan anak keduanya sudah berkeluarga. Ironisnya Pak Jiman mengaku tidak pernah mendapat program bantuan lain yang sudah dilaksanakan pemerintah berupa raskin maupun BLT. Kendala yang dihadapi dalam profesinya adalah adanya banyak saingan di perempatan Tugu Cembreng namun ia merasakan adanya sikap toleransi antar tukang becak, mereka tidak terlalu berebut penumpang. Kebanyakan penumpangnya adalah anak kos yang baru saja turun dari bus antar kota yang minta diantar ke kos mereka yang cukup jauh dari tempat mereka turun dari bus. Selama 5 tahun terakhir ia merasa pendapatannya semakin berkurang ia beranggapan seiring perkembangan zaman yaitu banyaknya pengguna telepon genggam dimana bisa langsung menghubungi minta dijemput daripada harus naik becak kemudian semakin banyaknya kendaraan pribadi dan angkutan umum yang masuk ke daerah perkampungan. Tanggapan dari keluarga Pak Jiman sendiri terhadap pekerjaan Pak Jiman sebagai tukang becak adalah mereka mendukung profesi Pak Jiman bahkan mereka bangga, anak-anak Pak Jiman sendiri tidak pernah menuntut, mereka mengerti kondisi ekonomi keluarga mereka dan Pak Jiman sendiri merasa tidak ada beban dalam menjalani kehidupannya. Sedangkan dengan masyarakat pada umumnya ia merasa tidak ada masalah dan tanggapan masyarakat biasa-biasa saja tentang pekerjaannya. Suka duka dalam menjalani pekerjaan sebagai tukang becak bagi Pak Jiman adalah merasa duka ketika tidak dapat uang dan suka ketika dapat uang dan harapannya adalah anak-anaknya harus sekolah sampai selesai semua.

Observasi Petani Padi

Petani padi yang bekerja di sawah berlokasi di pinggiran kota Solo ini adalah pria berumur bertopi caping. Keadaan fisiknya sudah cukup renta, kulit coklat berkerut membalut tubuhnya dengan kaos putih kumal dan celana pendek berwarna hitam. Tingginya sekitar 160 cm dan bertubuh kurus. Petani tersebut membawa cangkul untuk mengolah sawahnya dan juga celurit yang digunakan untuk memotong rumput yang nantinya digunakan sebagai makanan ternaknya. 2 petak tanah dikerjakannya sambil mengusir burung-burung yang mendekat dengan tangannya sebagai perilaku yang khas darinya. Karena padi sudah ditanam cukup lama, pekerjaan dari petani tersebut sedikit lebih mudah, hanya menjaga sawah dari kawanan burung dan beberapa hewan perusak padi seperti tikus dan serangan hama. Kemudian petani tersebut juga mengairi sawah dengan menggunakan selang yang cukup besar dan mengalirkan air dari sungai kecil yang berada di samping sawah dialirkan ke sawah itu sendiri. Petani tersebut tampak bersemangat mengusir burung-burung yang dapat memakan habis padinya dengan ucapan samar “hush… hush…” pertanda untuk mengusir hewan tersebut. Petani tersebut berada di pinggiran sawah sambil sesekali melihat ke tengah sawah. Suasana di arela persawahan tersebut cukup panas, tenang dan sepi, tidak ada orang lain selain petani sendiri. Padi di sawah tersebut berwana hijau menyegarkan mata dan juga terdengar kicauan burung diantara pepohonan yang mengelilingi sawah tersebut.

Observasi Pedagang Kaki Lima di Solo

Pedagang kaki lima di daerah Solo bisa dikatakan cukup banyak. Salah satunya yang sangat terkenal dan khas di Solo yaitu adalah Hik, begitu sebutan yang melekat pada pedagang kaki lima yang biasanya berjualan makanan yang murah dan cukup beragam ini. Hik yang saya observasi adalah sebuah Hik yang berada di tengah kota Solo. Hik ini cukup terkenal, hal ini dapat dilihat dari ramainya pembeli yang ada di Hik tersebut. Pedagang Hik tersebut adalah seorang lelaki berumur sekitar 50an, bertubuh pendek, berkacamata kuno dan cukup tebal dan sedikit lusuh. Ia berjualan ditemani istri dan seorang anak perempuannya. Di Hik tersebut dapat dilihat berbagai macam makanan yaitu tahu goreng, tempe goreng dan beberapa macam gorengan lain, kemudian bermacam-macam sate, dari sate ayam, sate kerang, sate bekicot dan lain-lain, kemudian nasi goreng dan nasi sayur tumis yang dibungkus. Harga dari makanan tersebut relatif murah namun makanannya tidak kalah lezat dari makanan restoran. Selain makanan dagangannya, pedagang hik ini juga ditemani kompor arang dengan teko diatasnya, kemudian alat makan, pisau, kipas dan alat pemanggang. benda-benda tersebut adalah bagian-bagian penting dari proses menjajakan barang dagangan di Hik tersebut, contohnya adalah kegiatan yang sering dilakukan pedagang tersebut yaitu mengipasi kompor arang dan juga membakar makanan yang diminta pembeli untuk dipanggang agar hangat. Pedagang Hik ini dikenal ramah oleh pembelinya, ia sering mengajak bercengkrama dengan pembelinya, contohnya saja ia mengatakan “monggo mas/mbak” yang artinya sambutan bagi pembeli yang baru datang. Dengan ini pembeli merasa bahwa mereka disambut dan akan merasa penasaran untuk mencoba menu yang disajikan. Suasana dari Hik itu sendiri tidak begitu spesial, lampunya remang-remang karena hanya menggunakan lampu berdaya 5 watt namun tempatnya cukup bersih dan berada di tengah kota. Maka wajar saja jika Hik ini sering dikunjungi.