Belanda, Berteman Lama dengan Sepeda

julianatandem (1)Kalau bicara tentang Belanda, pasti nggak jauh-jauh dari sepeda. Begitu juga sebaliknya. Terang aja, keduanya memang dikenal telah berdampingan bersama sejak ratusan tahun yang lalu. Buktinya? Di tahun 1910 ada sekitar 450.000 warga Belanda yang memiliki sepeda. Bahkan, angka tersebut naik dua kali lipatnya sembilan tahun kemudian. Kepopuleran sepeda ini muncul karena sepeda dianggap sebagai alat transportasi yang kokoh dan dapat diandalkan pada masa itu. Sepeda juga digemari masyarakat dari berbagai kalangan. Mulai dari buruh, masyarakat kelas menengah sampai sang Ratu pun nggak gengsi menggunakannya.

Ditengah desakan mobil dan moda transportasi modern lainnya, sepeda justru makin digemari. Salah satu ikon Belanda ini pun kini memiliki penggemar yang mencapai 18 juta orang. WOW! Pengguna sepeda pun bermacam-macam, dari anak sekolah, tukang bangunan, hingga bankir pun mengendarai sepeda. Dari beragam latar belakang pengendara sepeda inilah lahir beragam kreasi sepeda dengan beragam fungsi pula.

Mulai dari sepeda yang dirancang menyerupai dan berfungsi sama dengan bus sekolah. Kemudian ada pula sepeda disertai kedai minuman. Unik-unik bukan? Semuanya asli temuan dan bikinan Belanda. Saking unik dan inovatifnya ide ini, sepeda-sepeda ini pun mengglobal. Jangan kaget kalau produk bikinan Belanda ini kita jumpai pula di berbagai belahan dunia.

cats

Lalu gimana bisa Belanda dan sepeda menjaga hubungan yang langgeng hingga kini? Bisa dibilang keduanya bagaikan dua mata rantai yang menjalin hubungan simbiosis mutualisme. Ciah… bahasanya, Biologi banget. Jadi gini, ketika sepeda telah menjadi alat transportasi yang ramah lingkungan. Maka, Belanda mendukungnya dengan menyediakan fasilitas yang nyaman bagi pengguna si roda dua ini.

Sejak era perang dunia pertama, pemerintah Belanda mulai membangun fasilitas-fasilitas pendukung bagi pengendara sepeda. Dari jalur khusus sepeda, jalur penyebrangan jalan, rambu-rambu, hingga jembatan, semuanya dibuat khusus untuk pengguna sepeda. Bahkan sejak tahun 20an, ditetapkan pula beberapa aturan seperti; tiap rumah yang baru dibangun harus memiliki semacam garasi sepeda; dan tiap rumah susun harus memiliki satu area parkir sepeda. Hingga kini fasilitas-fasilitas lain pun terus dikembangkan dan diperlengkap.

first-paddestoel

Baru-baru ini, Belanda berencana untuk kembali memperlengkap fasilitas bagi pengguna sepeda. Pertama, membuat garis marka jalan yang menyala dalam gelap. Ide yang brilian? Jelas! Para pengendara sepeda akan lebih mudah untuk melihat garis marka jalan di malam hari. Ide cerdas ini pun dilirik oleh negara-negara lain seperti Amerika dan India untuk dikembangkan dinegaranya.

_65144877_65144876

Nggak cuma sampai disitu, digagas pula ide untuk membuat penghangat jalan melalui bawah tanah. Aduh gimana lagi tuh? Dan untuk apa pula? Jadi, ketika musim salju tiba, kecelakaan seperti terpeleset, sering terjadi akibat dari jalanan yang licin oleh endapan es. Disinilah penghangat jalan ini bekerja dengan mencairkan salju atau es di jalan. Pastinya, para pengguna sepeda akan merasa aman dan nyaman untuk bersepeda selama musim salju.

f7e2d976f88a77735c9875b36d5eef831354553902Nggak heran kalau Belanda dijuluki rumahnya para biker. Fasilitas yang lengkap memanjakan para pengendara sepeda adalah bentuk apresiasi Belanda terhadap sepeda. Hal ini memang bikin Belanda layak disebut sebagai pionir fasilitas bersepeda kelas dunia.

Sepeda beragam, fasilitas lengkap. Pantas saja hubungan pertemanan Belanda dan sepeda kokoh hingga kini. Iri ya? Kalau gitu, yuk kita mulai membudayakan lagi bersepeda supaya banyak yang concern untuk membenahi fasilitasnya. Buruan… udahan bacanya!

Sumber-sumber:

http://beta.fool.com/bamckenna/2012/12/17/glow-in-the-dark-smart-roads-netherlands-2013-indi/18775/

http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-20041522

http://www.guideholland.com/histbike.html

http://www.mnn.com/green-tech/transportation/blogs/the-pedal-bus-carrying-the-party-faithful-and-party-hoppers-too

http://www.roadsafetygb.org.uk/news/2608.html

http://www.roadswerenotbuiltforcars.com/why-is-cycling-popular-in-the-netherlands-infrastructure-or-history/

http://www.thetimes.co.uk/tto/public/cyclesafety/article3394181.ece

Sumber Gambar:

Gambar  “Ratu Juliana dan Pangeran Benhard” : http://www.guideholland.com/histbike.html

Gambar “Sepeda ‘Bus’ Sekolah” : http://www.treehugger.com/bikes/netherlands-kids-take-bicycle-bus-school.html

Gambar “Sepeda Kedai Minuman” : http://www.mnn.com/green-tech/transportation/blogs/the-pedal-bus-carrying-the-party-faithful-and-party-hoppers-too

Gambar “Pemilihan bentuk rambu penunjuk arah bagi pengendara sepeda” : http://bicycledutch.wordpress.com/2011/10/27/cycling-through-the-heath/

Gambar “Garis Marka jalan yang menyala dalam gelap” : http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-20942340

Gambar “Jalur sepeda yang licin oleh salju” : http://www.iamexpat.nl/read-and-discuss/expat-page/news/new-website-for-reporting-slippery-bike-paths

Bawa Pulang Awan, Bukan Lagi Imaji

Kulihat awan, seputih kapas

Arak-berarak di langit luas

Andai kudapat, ke sana terbang

Akan kuraih, kubawa pulang…

Masih ingat lirik lagu diatas? Yak, lagu berjudul “Awan Putih” ini mungkin membawa kita ke memori semasa kecil. Menerawang jauh ke atas menebak-nebak bentuk-bentuk awan di langit bersama teman-teman. Dih serunya… Selain itu, lagu ini juga seolah-olah mewakili imajinasi kita kala itu. Berandai-andai untuk bisa membawa pulang awan-awan yang ada di angkasa dan menikmati indahnya di rumah. Hal ini bukan lagi angan-angan, kini awan-awan tidak hanya bisa kita lihat di langit namun bisa kita nikmati juga di dalam rumah. Nggak percaya??!!! Ini buktinya!

Gambar

Bukaaann… itu bukan tipuan kamera atau foto hasil editan. Bukan juga sihir atau hasil mencomot awan-awan di langit. Lalu apa? Nyangka nggak nyangka, awan itu hasil kreasi manusia dengan memanfaatkan asap putih sebagai bahan utama. Meski bukan awan asli, setuju kan kalau awan ini terlihat sangat nyata?

Berndnaut-Smilde-artist1

Adalah Berndnaut Smilde seniman asal Belanda yang memprakarsai ide ini. Berawal dari lukisan pemandangan laut milik kakeknya, ia menangkap gambaran awan kelabu mengagumkan khas goresan orang Belanda. Awan itu pun mengimajinasikan Smilde pada sesuatu yang besar, magis dan kelam.  Dari situ, seniman kelahiran Groningen, 1978 ini pun terinspirasi membuat (baca: bukan melukis) awan hujan sejenis namun di DALAM RUANGAN. Gila nggak tuh! Nggak segila itu kok. Nyatanya lewat tangan dingin Smilde, ide gilanya pun bisa terwujud. Caranya?????

Cukup sederhana kok konsep pembuatan awan ini. Mulanya suhu dan kelembaban udara dalam ruangan diatur pada tingkat tertentu. Kemudian, asap putih disemburkan dari semacam mesin kabut (bukan mesin fogging nyamuk demam berdarah! :P). Terakhir, untuk efek dramatis, pencahayaan dimainkan di belakang semburan asap. Apakah isi kepala mulai berputaran membayangkan proses pembuatannya tadi? Jangan galau, bisa lihat visualisasinya disini.

Melihat awan buatan Smilde ini mungkin bisa digunakan untuk efek di film-film mejik ala Harry Potter ya? Tapi juga jangan kalap dulu! Sayangnya, awan ini hanya bertahan beberapa detik saja. Tak sampai disitu, Smilde tetap ingin orang-orang turut melihat dan menafsirkan karyanya seperti ketika kita menebak-nebak bentuk awan semasa kecil. Maka, diabadikanlah awan ini lewat jepretan kamera dengan latar yang unik dan hasilnya adalah mahakarya seni.

Smilde memang pantas menyandang gelar sebagai pionir seniman awan atas ide cerdasnya ini. Tak heran, kini  seni yang disebut “indoor clouds” ini pun mendunia. Mulai dari muncul di media-media ternama dunia seperti BBC dan Washington Post. Lalu, pameran-pameran di berbagai negara seperti Amerika dan Inggris. Bahkan, pemotretan awan ini pun pernah dilakukan di Belgia dan beberapa kota di Amerika. Yang paling dahsyat lagi, awan dalam ruangan ini masuk dalam penemuan-penemuan terbaik sepanjang tahun 2012 yang tak ternilai harganya versi majalah TIME.

3

Dengan beragam pencapaian yang ia terima, Smilde tidak lantas berpuas diri. Melalui sebuah situs, Smilde mengungkapkan bahwa akan terus membuat karya yang lebih baik. Inspiratif!

Berkaca dari Smilde, ketika kita kecil, kita mencoba menginterpretasi bentuk-bentuk awan. Hampir sama, Smilde juga menginterpretasi dan berimajinasi tentang awannya. Bedanya adalah, Smilde bukan cuma berandai-andai tapi berani mewujudkan imajinasinya. Berawal dari imajinasi bisa jadi pionir berprestasi.

Now, free your imaginations and make it happen!

Sumber-sumber:

http://techland.time.com/2012/11/01/best-inventions-of-the-year-2012/

http://www.bbc.co.uk/news/entertainment-arts-21034217

http://www.berndnaut.nl/works.htm

http://www.sfartscommission.org/gallery/2013/conversation-6-jason-hanasik-berndnaut-smilde/

http://www.slate.com/blogs/behold/2013/02/21/berndnaut_smilde_capturing_the_fleeting_moments_of_clouds_created_inside.html

http://www.washingtonpost.com/blogs/arts-post/post/artist-berndnaut-smilde-creates-indoor-clouds/2012/03/13/gIQA7yAT9R_blog.html

http://www.youtube.com/watch?v=U9YON-vSI5I

Sumber Gambar:

Gambar 1 “Nimbus II” : http://www.berndnaut.nl/works.htm

Gambar 2 “Berndnaut Smilde” : http://www.uni.ae/2013/03/12/cover-story-the-art-issue/

Gambar 3 “Nimbus Green Room dan Nimbus D’Aspremont”: http://www.berndnaut.nl/works.htm

Warung Tuk Tuk Bertenaga Listrik

Apa yang kebayang setelah dengar kata “Tuk Tuk”? Agak asing ya kedengarannya? Itu lho, kendaraan yang banyak ditemuin di Thailand. Kalau di Indonesia mirip banget sama kendaraan yang kecil, roda tiga, sukanya nyungsep-nyungsep, dan suara berisiknya yang super heboh alias Bajaj. Tapi, dibandingin sama Bajaj, Tuk Tuk bisa dibilang lebih modern. Soalnya nggak berisik dan nggak pengap. Nggak aneh juga sih kalau kendaraan ini masih jadi favorit. Soalnya bentuknya juga imut kan? Dua lampu bulat di depan kaya mata jadi mirip wajah orang, hihihi… Ditambah lagi bodinya yang slim jadi bisa nyungsep-nyungsep apalagi di daerah yang hobinya macet.

Nggak banyak yang mengira, kendaraan ini juga merambah Eropa lho. Perusahaan asal Belanda bernama Tuk Tuk Factory meluncurkan Tuk Tuk versi Eropa. Tuk Tuk Factory memang bukan perusahaan bau kencur dalam produksi Tuk Tuk. Mereka sudah meluncurkan beberapa jenis Tuk Tuk dengan fungsi yang bermacam-macam. Namun, baru-baru ini mereka meluncurkan e-Tuk Vendo. Apaan sih ini??? Mari kita telisik bersama…

Jadi e-Tuk Vendo ini adalah Tuk Tuk bertenaga listrik dengan konsep jasa boga. Terus, dari mana listriknya berasal? Nggak lucu banget donk kalau kendaraan jalan dengan kabel tertancap jauh dari stop kontaknya. Tenang, Tuk Tuk ini nggak seudik itu kok, hehe… Jadi kendaraan ini pakai yang namanya baterai lead-acid yang mampu menempuh jarak 70 kilometer. Baterai ini juga menyuplai tenaga untuk kulkas, pompa air dan system lainnya di dalam Tuk Tuk. Lah? Kok ada kulkas segala? Nah itu tadi, konsep Tuk Tuk adalah jasa boga. Bahkan Tuk Tuk ini dilengkapi dengan kanopi yang bisa dibuka tutup, meja lipat dan lemari perkakas. Bener-bener warung berjalan nih namanya.

Tapi disini juga banyak tuh kendaraan yang didesain untuk jualan keliling juga. Eiitss… Bukan cuma faktor manfaat aja yang diperhatikan. Kata direktur Tuk Tuk Factory, Roland Vos, ia menerima banyak permintaan untuk membuat kendaraan untuk berjualan keliling yang unik, bersih dan ramah lingkungan. Jelas lah, orang namanya jualan pasti dibuat yang nggak biasa untuk menarik perhatiian pembeli. Pembeli pertama kendaraan ini Toeti Froeti, sudah membuktikannya.  Astrid van Vug, pendiri Toeti Froeti bilang kalau orang-orang pada senyum liat Tuk Tuk ini. Tuk Tuk did it!

Lalu apakah kendaraan ini juga bersih dan ramah lingkungan? Tuk Tuk Factory tentu sudah mempertimbangkannya. Mereka menawarkan kendaraan yang bebas emisi dan juga memenuhi standar lisensi Eropa yang menjamin keamanan dan kenyamanan.

Keren ya? Lagi-lagi negeri asal Van Persie ini menciptakan ide kreatifnya. Lewat Tuk Tuk Factory ini, Belanda telah menunjukkan eksistensinya dalam berinovasi. Jadi penasaran, kira-kira Tuk Tuk model apa yang bakal diluncurkan berikutnya? Yuk mari kita tunggu… 🙂

sumber:

http://cyberedhoy.blogspot.com/2011/09/transportasi-massal.html

http://www.greentechmedia.com/industry/read/tuk-tuk-factory-launches-a-100-electric-vending-van-the-e-tuk-82003/

http://www.mediaindonesia.com/mediaoto/index.php/read/2012/05/04/4255/2/Perusahaan-Belanda-Luncurkan-Tuk-Tuk-Bertenaga-Listrik

http://www.tuktukfactory.nl/index.html

http://www.ubergizmo.com/2012/05/e-tuk-vendo/

Let’s GOwes Bus Sekolah

Aneh ya baca judul di atas? Bus kok digowes kaya sepeda aja. Eh, jangan salah yang satu ini ada Bus Sekolah yang digowes alias dikayuh. Kok bisa? Ini nih, negara asal pelukis terkenal, Van Gogh, meluncurkan inovasi baru. Bus sekolah yang umumnya menggunakan mesin, didesain ulang menjadi bus dengan tenaga manusia yaitu dikayuh layaknya sepeda.  Bah, macam mana pula itu?

Sering kan kita lihat di film-film barat, anak-anak sekolah dijemput dengan bus sekolah. Namun bus sekolah umumnya memakai mesin yang kurang ramah lingkungan. Nah, si Thomas Tolkamp seorang perancang sepeda asal Belanda menawarkan solusi baru. Ia merancang sebuah sepeda besar berpenumpang mencapai 11 anak. Fungsinya sama dengan bus sekolah, tapi yang ini jelas lebih ramah lingkungan. Terus, kaya apa sih sepeda ini?

Jadi, sepeda ini dikayuh oleh anak-anak dan dikemudikan oleh satu orang dewasa. Disediakan delapan pedal untuk anak-anak dan satu bangku untuk tiga anak yang tidak mengayuh. Sepeda ini diperuntukan untuk anak-anak yang berumur 4 sampai 12 tahun. Jadi ngebanyangin muka imut-imut berceloteh sambil sepedaan bareng teman-teman mereka, pasti lucu banget!

Terus, gimana ya kalau mereka lelah atau harus melewati medan menanjak? Tak perlulah khawatir, sepeda ini dilengkapi dengan mesin cadangan kok agar anak-anak nggak perlu mengayuh. Sepeda ini  dilengkapi pula dengan sound system dan semacam tenda terpal untuk melindungi dari hujan. Gimana nggak nyaman dan aman tuh? Selain itu, sepeda dengan kecepatan rata-rata sekitar 16 km/jam ini tersedia dengan berbagai pilihan warna. Sounds fun! Apalagi buat anak-anak, ya nggak? Bayangin aja, pagi-pagi, naik sepeda bareng teman-teman sekolah diantara bunga tulip atau kincir angin, wiiihhh… seru banget!

Nggak kaget juga sih kenapa muncul ide kreatif kaya gitu. Gimana enggak, orang Belanda bisa dibilang fanatik sama yang namanya sepeda. Hampir setengah dari orang Belanda menggunakan sepeda untuk sarana transportasi sehari-hari. Bisa dibilang, budaya bersepeda adalah simbol Belanda selain tulip dan kincir anginnya.

Terus kenapa ya, Tolkamp mau buat sepeda kaya gini? Katanya sih, doi sebelumnya pernah bikin sepeda besar sejenis yang dilengkapi dengan sebuah bar (unik ya?). Terus ada yang tanya, apa doi bisa bikin sepeda untuk mengangkut anak-anak. Voila! Jadi deh bus sekolah kayuh ini. Bener-bener nggak kehabisan akal ya?

Selain cuma jadi alat transportasi, sepeda ini secara nggak langsung juga media belajar lho. Kok bisa? Ya iyalah… Dengan sepeda ini mulai anak-anak diajarkan untuk cinta lingkungan dan bekerjasama. Brilian! Selain itu anak-anak juga bisa sekalian olahraga kan? Apalagi ditengah naiknya bahan bakar, isu obesitas pada anak dan polusi udara yang meningkat gini. Lagi-lagi anak-anak juga belajar untuk langsung take in action. Jadi nggak orang dewasa aja yang sepedaan, anak-anak juga bisa turut beraksi membuat perubahan.

Simple thing brings a big change!

sumber:

http://www.fastcoexist.com/1679248/dutch-kids-pedal-their-own-bus-to-school

http://gimundo.com/news/article/dutch-kids-ride-bicycle-bus-to-school/

www.neatorama.com/2012/02/07/school-bus-bicycle/

http://planetsave.com/2012/02/11/dutch-kids-ride-bicycle-bus-to-school/

http://www.smartplanet.com/blog/transportation/bicycle-school-bus-changes-transportation-in-the-netherlands/1480

http://www.treehugger.com/bikes/netherlands-kids-take-bicycle-bus-school.html

Perisai Anak ala Negeri Kincir Angin

Perhatian masyarakat dan pemerintah Belanda menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan anak-anak di negara mereka patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, baru-baru ini anak-anak Belanda dinobatkan sebagai anak-anak paling bahagia di Eropa dan Amerika Utara. Predikat ini didapatkan dari hasil penelitian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lansir Republika (03/05/12). Penelitian ini mengkhususkan pada kesejahteraan dan kesehatan. Tercatat bahwa konsumsi alkohol di kalangan remaja Belanda, antara 11 hingga 13 tahun, menurun. Tentunya hasil yang diraih ini merupakan hasil kerja sama yang baik antara pemerintah dan masyarakat di Belanda. Disebutkan bahwa rumah sakit di Belanda menyediakan perawatan bagi remaja pemabuk. Faktor lain yang mendukung adalah remaja Belanda umumnya memiliki hubungan baik dengan orang tua, keluarga dan teman mereka.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah keterbukaan Belanda terhadap inovasi baru. Hal ini menjadi alat bantu dalam mengatasi problematika di negaranya. Terlebih lagi dalam mengatasi masalah yang menyangkut anak-anak. Keterbukaan mereka ini dibuktikan salah satunya lewat penggunaan sistem pendeteksi  pornografi terhadap anak-anak. Sistem tersebut dikenal dengan nama PhotoDNA. Radio Netherlands Worldwide melansir bahwa baru-baru ini Institut Forensik Belanda (NFI) dan perusahaan perangkat lunak asal Amerika, Microsoft, tengah menguji sistem itu di Belanda. PhotoDNA adalah sistem yang dikembangkan oleh Microsoft bekerja sama dengan Dartmouth College pada tahun 2009. Sistem ini bekerja dengan cepat sehingga dengan menggunakannya akan lebih mudah dan tidak membuang-buang waktu. Sistem ini sangat membantu terutama dalam proses pelacakan pembuat dan pembeli gambar-gambar porno anak-anak. Diharapkan dengan menggunakan sistem ini akan membantu dalam upaya menggulung jaringan pedofilia.

Tahun 2011 lalu, publik Belanda dan bahkan dunia dikejutkan dengan kasus pornografi terhadap anak-anak di Belanda. Dalam hal ini tentunya anak-anaklah yang menjadi korban. Di tahun yang sama, Institut Forensik Belanda mendatangi Microsoft guna berkolaborasi dalam penelitian mengenai database pornografi anak-anak di Belanda. NFI menerima banyak laporan mengenai pornografi terhadap anak-anak di Belanda. Mereka pun bergerak cepat untuk mengajukan permohonan penggunaan sistem PhotoDNA. Alhasil, NFI menjadi satu-satunya lembaga pemerintah yang diperbolehkan untuk menggunakan sistem PhotoDNA. Sistem ini digabungkan dengan software milik NFI sendiri. Menjadi satu-satunya lembaga pemerintah yang menggunakan sistem ini bukan semata-mata hasil pekerjaan NFI. Tentunya hal ini jugaberkat dukungan masyarakat. Terutama mereka yang berkontribusi dalam memberikan laporan pada NFI.

Dapat disimpulkan bahwa anak-anak adalah bagian yang menjadi perhatian penting baik bagi pemerintah Belanda maupun masyarakatnya. Pemerintah Belanda dan masyarakatnya saling bekerja sama untuk menjadi perisai bagi anak-anak di negaranya. Mereka saling memainkan peran mereka masing-masing dengan sangat baik. Hal ini didukung pula dengan keterbukaan mereka terhadap inovasi baru. Selain itu, hal lain yang patut dicontoh adalah kesigapan mereka dalam menangani masalah yang dihadapi negaranya.

Maka tidak aneh jika Jurre Hermans, anak asal Belanda dapat meraih nobel ekonomi. Bocah 11 tahun ini memiliki gagasannya “Ide Pizza” untuk mengatasi krisis Euro. Terang saja, Jurre dan anak-anak Belanda lainnya punya perisai yang melindungi mereka. Pastinya ini membuat mereka merasa percaya diri untuk melangkah dan membuat prestasi. Lalu, bagaimana dengan kita? Akankah kita menjadi perisai bagi anak-anak di negara kita?

sumber:

http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/belanda-menguji-sistem-pendeteksi-porno-anak-anak

http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/05/02/m3en49-anakanak-belanda-paling-bahagia-di-eropa-dan-amerika-utara

http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/bocah-belanda-atasi-krisis-euro

http://www.microsoft.com/en-us/news/presskits/photodna/

Wawancara Pedagang Sayur Pasar Kandangsapi

Kandangsapi adalah daerah pinggiran kota Solo yang lokasinya tidak terlalu besar, namun karena padatnya penduduk di daerah tersebut maka tidak aneh disana terdapat pasar kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar terutama bagi kebutuhan pangan. Salah satu pedagang yang ikut mengisi kegiatan jual beli di pasar tersebut adalah ibu Ngatinem. Ibu yang akrab disapa Yu Nem ini berusia 52 tahun dan kurang lebih sudah 30 tahunan menjadi seorang pedagang sayur di pasar tradisional. Yu Nem bertempat tinggal tidak jauh dari pasar Kandangsapi, hanya sekitar 5 menit jalan kaki. Yu Nem telah menggelar dagangannya sekitar pukul 4 pagi dan tutup sekitar pukul 5 sore tiap harinya. Di siang hari ia dibantu kedua putrinya yang duduk di bangku 3 SMK dan 3 SMP dan putri sulungnya telah bekerja di sebuah supermarket di kota Solo. Yu Nem memperoleh penghasilan mencapai Rp 30.000,00 per hari namun itu tidak tentu kadang mendapat lebih sedikit dari itu dan masih lagi ia membayar sewa lapak sekitar Rp 100.000,00 per bulan. Meski dirasa pendapatannya kurang memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan anak-anaknya namun ia cukup terbantu dengan BLT yang diterimanya dan juga dari anak sulungnya. Yu Nem adalah seorang single parent, suaminya telah meninggal 3 tahun yang lalu karena penyakit TBC. Ibu Ngatinem merasa senang dengan pekerjaan yang ia geluti saat ini meski terkadang bosan namun ia tidak punya pilihan lain karena ia merasa tidak memiliki keterampilan lain dan latar belakang pendidikan yang hanya sampai lulus sekolah dasar. Meski ia berlatar belakang rendah namun ia ingin anak-anaknya tidak seperti dia, ia ingin anaknya bisa kuliah dan sukses.

Wawancara Tukang Becak

Perempatan Tugu Cembreng Solo adalah lokasi yang cukup strategis bagi para tukang becak mendapatkan penumpang karena banyak penumpang yang turun dari bus khususnya bus antarkota yang akan memasuki kampung yang cukup jauh merasa becak adalah transportasi yang pas untuk mengantar mereka.  Salah satu tukang becak yang ada di daerah Pedaringan adalah bapak Jiman yang tinggal di Gulon RT 03/XXI. Usianya 57 tahun dan berprofesi sebagai tukang becak selama sekitar 30 tahun namun ia mangkal di perempatan Tugu Cembreng selama sekitar 20 tahun. Selain menjadi tukang becak tidak ada pekerjaan lain yang ia jadikan penopang untuk menafkahi istri dan kelima anaknya dengan alasan hanya pekerjaan inilah yang ia bisa lakukan. Per hari rata-rata ia mendapatkan Rp 10.000,00 untuk makan sehari-hari itu pada 5 tahun terakhir ini sangat sulit mendapatkan uang sepuluh ribu seharian. Namun istrinya pun membantu dengan bekerja di kantin perpustakaan UNS sebagai juru masak yang berpenghasilan Rp 15.000,00 per hari sehingga jika sewaktu-waktu Pak Jiman tidak mendapatkan uang ada uang cadangan yang diandalkan untuk makan sehari-hari. Pak Jiman bekerja mulai pukul 6 sampai pukul 9 malam dimulai dengan mangkal di perempatan Tugu Cembreng kemudian berkeliling sampai Rumah Sakit Dr. Moewardi kemudian kembali mangkal di perempatan Tugu Cembreng dan tidak ada hari libur baginya, jika ia merasa lelah ia akan pulang untuk istirahat kemudian bekerja kembali dan dalam keadaan panas maupun hujan ia tetap harus bekerja namun kebanyakan ia menunggu penumpang daripada mencari penumpang. Selain kebutuhan sehari-hari masih banyak biaya yang perlu dikeluarkan oleh Pak Jiman yaitu sewa becak, karena becak yang ia gunakan untuk bekerja bukan miliknya sendiri namun becak sewaan dari seorang bernama Pak Heri yang bertempat tinggal di Mojosongo. Tarif sewa per hari adalah Rp 2.500,00 yang ditarik tiap lima hari sekali. Kemudian ada pajak untuk becak yang ditanggungnya sendiri sebesar Rp. 6.000,00 per tahun jika belum bayar pajak bisa kena razia meski razia becak sangat jarang sekali dan Pak Jiman sendiri belum pernah terkena razia apapun selama sekitar 30 tahun bekerja. Kemudian biaya perawatan becak atau seandainya ban becaknya bocor harus ia tanggung sendiri. Namun terkandang Pak Jiman mendapat bantuan dari mertuanya dan untuk ketiga anaknya yang masih bersekolah mendapat bantuan dari pemerintah berupa program BOS dan juga dari anak pertamanya yang sudah bekerja sedangkan anak keduanya sudah berkeluarga. Ironisnya Pak Jiman mengaku tidak pernah mendapat program bantuan lain yang sudah dilaksanakan pemerintah berupa raskin maupun BLT. Kendala yang dihadapi dalam profesinya adalah adanya banyak saingan di perempatan Tugu Cembreng namun ia merasakan adanya sikap toleransi antar tukang becak, mereka tidak terlalu berebut penumpang. Kebanyakan penumpangnya adalah anak kos yang baru saja turun dari bus antar kota yang minta diantar ke kos mereka yang cukup jauh dari tempat mereka turun dari bus. Selama 5 tahun terakhir ia merasa pendapatannya semakin berkurang ia beranggapan seiring perkembangan zaman yaitu banyaknya pengguna telepon genggam dimana bisa langsung menghubungi minta dijemput daripada harus naik becak kemudian semakin banyaknya kendaraan pribadi dan angkutan umum yang masuk ke daerah perkampungan. Tanggapan dari keluarga Pak Jiman sendiri terhadap pekerjaan Pak Jiman sebagai tukang becak adalah mereka mendukung profesi Pak Jiman bahkan mereka bangga, anak-anak Pak Jiman sendiri tidak pernah menuntut, mereka mengerti kondisi ekonomi keluarga mereka dan Pak Jiman sendiri merasa tidak ada beban dalam menjalani kehidupannya. Sedangkan dengan masyarakat pada umumnya ia merasa tidak ada masalah dan tanggapan masyarakat biasa-biasa saja tentang pekerjaannya. Suka duka dalam menjalani pekerjaan sebagai tukang becak bagi Pak Jiman adalah merasa duka ketika tidak dapat uang dan suka ketika dapat uang dan harapannya adalah anak-anaknya harus sekolah sampai selesai semua.

Observasi Petani Padi

Petani padi yang bekerja di sawah berlokasi di pinggiran kota Solo ini adalah pria berumur bertopi caping. Keadaan fisiknya sudah cukup renta, kulit coklat berkerut membalut tubuhnya dengan kaos putih kumal dan celana pendek berwarna hitam. Tingginya sekitar 160 cm dan bertubuh kurus. Petani tersebut membawa cangkul untuk mengolah sawahnya dan juga celurit yang digunakan untuk memotong rumput yang nantinya digunakan sebagai makanan ternaknya. 2 petak tanah dikerjakannya sambil mengusir burung-burung yang mendekat dengan tangannya sebagai perilaku yang khas darinya. Karena padi sudah ditanam cukup lama, pekerjaan dari petani tersebut sedikit lebih mudah, hanya menjaga sawah dari kawanan burung dan beberapa hewan perusak padi seperti tikus dan serangan hama. Kemudian petani tersebut juga mengairi sawah dengan menggunakan selang yang cukup besar dan mengalirkan air dari sungai kecil yang berada di samping sawah dialirkan ke sawah itu sendiri. Petani tersebut tampak bersemangat mengusir burung-burung yang dapat memakan habis padinya dengan ucapan samar “hush… hush…” pertanda untuk mengusir hewan tersebut. Petani tersebut berada di pinggiran sawah sambil sesekali melihat ke tengah sawah. Suasana di arela persawahan tersebut cukup panas, tenang dan sepi, tidak ada orang lain selain petani sendiri. Padi di sawah tersebut berwana hijau menyegarkan mata dan juga terdengar kicauan burung diantara pepohonan yang mengelilingi sawah tersebut.

Observasi Pedagang Kaki Lima di Solo

Pedagang kaki lima di daerah Solo bisa dikatakan cukup banyak. Salah satunya yang sangat terkenal dan khas di Solo yaitu adalah Hik, begitu sebutan yang melekat pada pedagang kaki lima yang biasanya berjualan makanan yang murah dan cukup beragam ini. Hik yang saya observasi adalah sebuah Hik yang berada di tengah kota Solo. Hik ini cukup terkenal, hal ini dapat dilihat dari ramainya pembeli yang ada di Hik tersebut. Pedagang Hik tersebut adalah seorang lelaki berumur sekitar 50an, bertubuh pendek, berkacamata kuno dan cukup tebal dan sedikit lusuh. Ia berjualan ditemani istri dan seorang anak perempuannya. Di Hik tersebut dapat dilihat berbagai macam makanan yaitu tahu goreng, tempe goreng dan beberapa macam gorengan lain, kemudian bermacam-macam sate, dari sate ayam, sate kerang, sate bekicot dan lain-lain, kemudian nasi goreng dan nasi sayur tumis yang dibungkus. Harga dari makanan tersebut relatif murah namun makanannya tidak kalah lezat dari makanan restoran. Selain makanan dagangannya, pedagang hik ini juga ditemani kompor arang dengan teko diatasnya, kemudian alat makan, pisau, kipas dan alat pemanggang. benda-benda tersebut adalah bagian-bagian penting dari proses menjajakan barang dagangan di Hik tersebut, contohnya adalah kegiatan yang sering dilakukan pedagang tersebut yaitu mengipasi kompor arang dan juga membakar makanan yang diminta pembeli untuk dipanggang agar hangat. Pedagang Hik ini dikenal ramah oleh pembelinya, ia sering mengajak bercengkrama dengan pembelinya, contohnya saja ia mengatakan “monggo mas/mbak” yang artinya sambutan bagi pembeli yang baru datang. Dengan ini pembeli merasa bahwa mereka disambut dan akan merasa penasaran untuk mencoba menu yang disajikan. Suasana dari Hik itu sendiri tidak begitu spesial, lampunya remang-remang karena hanya menggunakan lampu berdaya 5 watt namun tempatnya cukup bersih dan berada di tengah kota. Maka wajar saja jika Hik ini sering dikunjungi.